Asuransi nelayan. Sebuah harapankah?

Asuransi nelayan. Sebuah harapankah?

Asuransi ini[asuransi nelayan] merupakan bagian dari asuransi pemerintah. Seperti diketahui gayung bersambut, semua fihak satu suara baik dari rezim yg berkuasa yg punya ide, para wakil rakyat yg merestui & juga dari sisi para ‘advokasi’/’pejuang’ hak nelayan, semua sepakat ini demi rakyat sesuai dengan amanat undang-undang[hasil lobby berbagai fihak yg mempunyai kepentingan demi ‘rakyat’]..fiksi / nyata terserah 😉 toh ini cuma curhat saja, adapun berkesesuaian dengan keadaan disuatu tempat / suatu negara, itu hanya kebetulan belaka(karena mungkin, hatinurani anda & saya pada posisi yg sama, / mungkin kita cuma sama-sama ‘minoritas pesimis’ akan rezim yg berkuasa karena ga dapet saham? 😛 ).

Asuransi nelayan. sebuah harapankan?
wikipedia

Demi rakyat

Dimulai dari ide untuk mengasuransikan semua nya seluruh rakyat Indonesia dikatakan terlindungi dengan proteksi dari asuransi, apapun profesinya, semua kalangan tak terkecuali. & ini kedepannya akan diwajibkan, diwajibkan dalam arti sebenarnya, dimana apabila tidak melakukannya(ikut serta) dalam asuransi wajib ini mana dipastikan akan mendapat sangsi-sangsi yg pasti sangat merepotkan, misalnya; tak dapat membuat KTP, KK, SIM & hak administrasi rakyat lainnya.
Di negara maju saja misalkan Jerman[model asuransi kesejatan di Jerman], memang misal asuransi kesehatan itu wajib tetapi merupakan pilihan dimana disediakan asuransi kesehatan pemerintah & asuransi kesehatan swasta, dimana jika seseorang memilih untuk menggunakan asuransi kesehatan swasta terdapat kriteria yg ditetapkan pemerintah Jerman sana, & itu dipersilahkan.

Apa mungkin Indonesia  lebih maju? ..mungkin juga ya? apa salahnya kalau dinegeri tercinta ini menerapkan hal yg lebih fleksibel dimana masyarakat tidak wajib asuransi, diberi pilihan untuk menggunakan asuransi ‘plat merah‘ / asuransi komersil/swasta, dengan kriteria-kriteria yg ditetapkan pemerintah standar/karakter asuransi swasta yg ideal untuk masyarakat Indonesia raya ini. sederhana kan? coba bayangkan standar ganda yg kita lihat sehari-hari, dimana dikatakan, setiap pergantian rezim selalu saja ada BUMN yg diprivatisasi/dijual ke asing[huruf ‘i’ dapat di ganti sama huruf ‘e’], demi efisiensi & meningkatkan kinerja katanya, tetapi disisi asuransi sendiri apa yg terjadi? padahal perusahaan asuransi di negeri ini baik perusahaan asuransi nasional[pribumi] / perusahaan asuransi multinasional sudah banyak bertebaran bak jamur dimusim hujan, kenapa tidak dimaksimalkan yg ada? hadeh.. gak ngerti aku mah.. ya karena mungkin otak awam ya? tidak juga.

yg mengganggu ‘rasa’ disini ialah mengapa sampai wajib segala 🙁 ya mungkin saya hanya seorang awam saja[baca juga: kenapa mungkin bpjs memang diharamkan saja.], yg tak tau diuntung, tapi juga mungkin sudut pandang untung sendiri merupakan suatu kebebasan tersendiri mendefinisikannya sebagai hak dasar dalam kebebasan sebagai individu, iya kan? dapat jadi menurut rezim yg berkuasa bersabda;”..eh ini baik untuk loh!”, tapi biarlah kami sendiri yg menentukan baik / buruk, untung / rugi sebab pemahaman & keyakinan kita berbeda & katanya tak ada paksaan untuk itu?

Lantas mungkin ada pernyataan apa yg terjadi dengan tanggung jawab sosialnya? dimana itu? tentu tanggung jawab sosial tetap ada dalam kebebasan individu tetap hanya ingin memastikan bahwa tanggung jawab sosial yg ada jangan sampai menjadi keuntungan fihak ‘middle man‘, biar kami yg melakukan itu! apa sumberdaya alam yg ada tidak cukup untuk mengeruk keuntungan? sampai-sampai sumberdaya manusia pun tak luput rezim yg berkuasa eksploitasi juga 🙁

kembali lagi ke asuransi nelayan, katanya, “Perlindungan ini merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran nelayan akan pentingnya jaminan sosial untuk melindungi pekerja dari risiko kerja,”. ya benar. dengan ‘kesadara’ yg dimaksudkan maka seluruh nelayan akan dengan suka cita membayar kewajiban setiap bulan yg katanya ‘sangat kecil'[cuma Rp.16.000,-] nilai rupiahnya jika dibanding dengan penggantian[berupa klaim asuransi] bilamana resiko yg dipertanggungkan terjadi semisal kecelakaan & / meninggal dunia.

Belajar berhitung lagi

Mari belajar berhitung keuntungan kita jika sistem ini sahamnya punya kita orang 🙂
dimana premi yg harus disetorkan oleh rakyat republik Indonesia raya tercinta ini ialah Rp.16.800,-(menurut web site: djpt.kkp.go.id) diikut sertakan sebanyak 1000 nelayan didaerah banyuwangi. & diwartakan pula oleh industri.bisnis.com bahwa kementrian terkait merencanakan 1juta asuransi untuk nelayan & dharapakan terealisasi awal tahun ini, & kementrian kelautan perikanan(KKP) telah menyiapkan sedikitnya Rp.250miliar(untuk pertaruhan 😀 dalam arti pabila terjadi kecelakaan Rp.250miliar segera berpindah tangan ke rakyat, kalau tidak ya Rp.16,8miliar akan menjadi pemasukan yg ‘gurih’, nah ini kan baru hanya untuk 1juta nelayan saja).

Rp. 16.800,- x 1.000.000 asuransi nelayan = Rp.16.800.000.000,-(sekitar 18,8miliar)

jadi kesimpulannya apa? ya nyata sudah kalau penulis cuma pesimis yg gak kebagian saham 😀 /.. Anda menemukan kesimpulan lain? alhamdulillah. semoga bermanfaat. sekali lagi, cuma curhat kok. jangan marah ya 😛 toh para nelayan gak akan baca blog ini. kalau lah para nelayan online juga paling mereka cuma ngecek prakiraan cuaca buat referensi pergi melaut, setidaknya itu yg kita tau di ikan tv telkomsel..

Asuransi nelayan. Sebuah harapankah? | carinsurancenet.us | 4.5