haramkah asuransi?

haramkah asuransi?

Memperdebatkan tentang status halal-haram suatu hal tentu boleh tidak sembarang, kita tidak secara akal mendefinisikan sendiri segala urusan, apalagi berhubungan dengan urusan agama, khusunya agama Islam. Meskipun pada kenyataanya dimasyarakat kita cenderung(semoga saja ini tidak secara global) mulai mengenyampingkan usaha untuk mencari referensi & rujukan yg sebenarnya tentang suatu urusan pada fihak yg sangat faham dengan alasan ‘mereka’ sudah korup, ‘mereka’ sama saja dengan kita sebagai manusia biasa, akhirnya sumber referensi & rujukan ummat sudah tidak jelas lagi, opini digiring untuk menyudutkan para ulama yg seharusnya menjadi sumber rujukan. Sejujurnya, pendapat yg ada sekarang ada dua; ada fihak yg menyatakan bahwa asuransi halal, begitu juga ada fihak yg menyatakan asuransi haram, baik itu asuransi konvensional / asuransi secara umum begitu juga fatwa haramnya termasuk asuransi syariah, dengan alasan fihak yg menghalalkan sistem asuransi dlm Islam salah dlm menggunakan dasar hukum / riwayat hadist yg digunakan, wallohu’alam.

.

Haram

Secara sederhana adanya unsur mengundi dimana pada suatu saat akan ada fihak yg dirugikan & akan ada fihak yg diuntungkan atas suatu resiko yg diperjanjikan(dipertaruhkan?), & keadaan ini tetap terjadi dimana pada batas akhir suatu perjanjian dimana pabila tak terjadi resiko yg dipertanggungkan maka yg mendapatkan keuntungan ialah sipenanggung & sitertanggung mendapati kerugian sesuai dengan kesepakatan awal.

.

Gharar

Lantas resiko itu sendiri, dlm tinjauan fiqih sesuatu hal yg tidak jelas[gharar], dimana bersepakat atas segala sesuatu yg tidak jelas [gharar] hukumnya haram.

.

Riba

Riba ialah kelebihan yg didapatkan dengan tak adanya pengganti. Asurnasi dinilai diribawi, karena dlm konsep asuransi umum / asuransi konvensional. Premi yg disetor tertanggung(nasabah asuransi), merupakan hak penanggun(perusahaan asuransi) dimana perusahaan asuransi memiliki hak penuh untuk invest pada sektor apapun tanpa terikan pada hukum syariat untuk berinvetasi, tidak perduli halal / haram profit yg didapat, / minimal mereka invetasi dlm sistem bunga /riba.
Tentu ini sangatlah tidak adil dlm pandangan Islam, ditambah dengan aturan main yg special dlm sistem asuransi konvensional, salahsatunya seperti yg dituliskan diatas, dibeberapa perusahaan asuransi umumnya ada aturan dimana (salah satu syaratnya) tidak terjadi resiko yg dipertanggungkan maha perusahaan asuransi berarti mendapatkan keuntungan total dengan tanpa harus mengembalikan total iuran dari nasabah/premi yg disetorkan dengan adanya aturan sistem hangus. / dana akan hangus pabila terjadi keterlambatan pembayaran premi setelah masa waktu yg diberikan, bahkan ada juga sistem hangus yg diterapkan bilamana nasabah asuransi/tertanggung mengundurkan diri sebelum masa pertanggungan selesai.

Adapun menurut pendapat salah satu hizb, yg senada dengan keharaman asuransi bahkan memandang pula asuransi syariah yg ada disimpulkan ada beberapa permasalah menyangkut ketidak tepat-an nya penggunaan dalil untuk status asuransi halal.
asuransi keluarga

Halal

Persis seperti tulisan diatas dimana salah satu hizb/harokah yg getol menyuarakan daulah menyatakan/memfatwakan dalil yg digunakan ialah dalil yg tidak tepat, wallohualam. Berikut beberapa point yg menjadi dalil dari asuransi syariah yg sudah diterima secara umum di masyarkat sekarang;
Takaful, Saling menolong, saling menanggung / mengambil alih perkara seseorang. dlm pengertian muamalah; saling memikul resiko diantara sesama muslim sehingga antara satu & lainnya menjadi penanggung saudaranya yg lain. “& tolong-menolonglah kamu dlm(mengerjakan) kebajikna & takwa, & janganlan tolong-menolong dlm berbuat dosa & pelanggaran.QS.Al-Maidah[5:2].

.

Perintah Alloh SWT untuk mempersiapkan hari depan

& hendaklah takut kepada Allah orang-orang yg seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yg lemah, yg mereka khawatir untuk(kesehahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepad Allah & hendaklah mereka mengucapkan perkataan yg benar.QS.An-Nisa[4:9].
Pada ayat diatas digambarkan memberikan pemahaman kepada kita tentang pentingnya perencanaan yg matang atas persiapa hari depan, begitu juga apa yg disampaikan pada ayat yg mengisahkan nabi Yusuf, dimana pada waktu itu dituntutnya untuk membuat sistem perlindungan untuk menghadapi kemungkinan resiko(musim) buruk yg terjadi dimasa depan.QS.Yusuf[12:43,49].

.

Berasuransi bukan untuk menolak takdir

Tidak ada sesuatu musibahpun yg menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah.” QS.Attaghabun[64:11].
Dari ayat diatas dimaksudkan bahwa segala sesuatu didunia ini, semuanya ditentukan oleh Allah SWT, manusia hanya diminta berusaha secara total/maksimal. Kemudian diayat berikut dipaparkan tentang keharusan kita membuat perencanaan atas hari depan / masa depan pada ayat berikut;
Hai orang-ornag yg beriman, bertakwalah kepada Allah & hendaklah setiap diri memperhatikan apa yg telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat), & bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.QS.Al-Hasyr[59:18].

.

Menurut Dewan syariah Nasional MUI, dlm Fatwa DSN No. 21/DSN-MUI/IX/2001.

  • Asuransi syariah(ta’min, takaful / tadhamun) ialah usaha saling melindungi & tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dlm bentuk asset & / tabarru’ yg memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad(perikatan) yg sesuai dengan syairah.
  • Akad yg sesuai syariah ialah yg tidak mengandung gharar(penipuan), maysir(perjudian), riba, dzulm(penganiayaan),risywah(suap), barang haram & maksiat.
Demikian tulisan yg saya dapat sampaikan hari ini semoga menjadi informasi yg bermanfaat untuk menentukan apa yg harus pembaca putuskan didalam berasuransi 😉 walloho’alam.

haramkah asuransi? | carinsurancenet.us | 4.5