Mempelajari pengalaman hidup seseorang berarti menghemat waktu tanpa harus mengalaminya sendiri

Mempelajari pengalaman hidup seseorang berarti menghemat waktu tanpa harus mengalaminya sendiri

Seperti itulah kurang lebih ungkapan dari sebuah kata pepatah, bahkan ada kata-kata yg lebih tegas / lebih kasar lagi; “Orang yg bodoh ialah pengalaman/kesialan hidupnya diambil hikmahnya oleh orang lain & orang yg pintar ialah orang yg menimba hikmah dari pengalaman/kesialan hidup seseorang”, kurang lebih seperti itulah ungkapan yg mungkin pas untuk cerita dibawah ini.

Dengan berbagai media informasi yg ada sekarang ini ialah hal yg sangat tidak mungkin untuk kita ditengah masyarakat untuk tidak mengetahui suatu kisah / berita / gossip. terutama kisah-kisah para tokoh & karakter yg dominan menjadi buah bibir diberbagai media pemberitaan.

Kisah yg membuat diri berfikir

Terdapat kisah menarik dimana peristiwa itu benar-benar membuat kita sebagai manusia biasa berfikir tentang hidup & apa yg akan terjadi selanjutnya. Misalkan kisah yg menceritakan seorang tokoh masyarakat yg meninggal secara mendadak akibat kecelakaan lalulintas dlm sebuah perjalanan liburannya, & ternyata pada cerita selanjutnya dikabarkan meninggalkan keluarga dlm kepayahan yg nyata, tanpa warisan yg dapat dijadikan modal untuk usaha/bisnis sebagai pemasukan keluarga, & tentu dengan tiba-tiba keluarga yg ditinggalkan dihadapkan pada kenyataan pahit untuk menyesuaikan pola hidup yg ada dengan keadaan yg mendadak harus berubah menyesuaikan diri dengan kondisi keuangan pasca kehilangan sang penanggung pencari nafkah keluarga, mulai dari menyesuaikan pengeluaran pendidikan anak, pola hidup sang ratu dlm keluarga yg harus mulai menghasilkan secara finansial demi bertahan hidup.

Tetapi terdapat pula kisah lain yg bertolak belakang, dimana kisah yg diberitakan mungkin tak kalah memilukan tetapi diakhir kisah cerita ini malah kita yg menyaksikannya malah berdecak kagum karena merasa banga atas ikhtiar yg dilakukan seorang suami sebagai kepala keluarga demi keluarga tercintanya & bahkan kita merasa didalam hati kecil kita, ‘..kufikir ini contoh idealku’. Kurang lebih awal ceritanya sama, seorang tokoh masyarakat yg diberitakan meninggal dunia karena kecelakaan, hal yg menarik selanjutnya diceritakan pula baru diketahui bahwa ternyata sang kepala keluarga itu sudah mempersiapkan segalanya atas kemungkian terburuk yg menimpa kepada dirinya dari mulai bisnis invetasi & polis asuransi jiwa dirinya, asuransi pendidikan anaknya, peternakan & pertaniannya, nyatalah dia tak rela meninggalkan keluarga yg ditinggalnya dlm keadaan kepayahan..

rujukan

persisi seperti kutipan Kita Suci kita;

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

& hendaklah takut kepada Allah orang-orang yg seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yg lemah, yg mereka khawatir untuk (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah & hendaklah mereka mengucapkan perkataan yg benar.” (QS. An-Nisaa`: 09)

& bersambung dengan kutipan hadist  dlm kitab Shahihain(merupakan Istilah Islam yg digunakan untuk menyebut kedua kitab Shahih milik Imam Bukhari & Imam Muslim);

إنَّكَ إنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أغنِيَاءَ خيرٌ مِنْ أنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يتكفَّفُونَ النَّاسَ

Sesungguhnya kamu bila meninggalkan ahli warismu dlm keadaan berkecukupan ialah lebih baik daripada kamu membiarkan mereka dlm keadaan miskin meminta-minta kepada orang lain.”

bahkan ayat & hadist ini(& beberapa lainnya) merupakan rujukan pokok (katanya) atas alasan bahwa kenapa ‘kita’ ‘harus’ memilik polis asuransi syariah, tentu agar supaya akhiwaris yg kelak ditinggal tidak dlm keadaan berkekurangan.
Ya, mungkin lain lagi soalnya jikan pembaca lebih memilih asuransi non syariah dengan rujukan pokok asuransi umum/asuransi konfensional dimana pasti referensinya ialah bunga(riba) yg menjanjikan kelak sekian puluh tahun kedepan, saya tebalkan semoga yg membaca lebih realistis akan duitnya masing-masing 🙂

kesimpulannya tentu bukan berarti pembaca harus memiliki polis asuransi syariah, meskipun mungkin itu tak ada salahnya juga, tapi mungkin akan menjadi salah tatkala pembaca memiki pengetahuan yg lebih untuk menghasilkan uang daripada disimpan pada suatu produk asuransi bahkan itu ialah produk asuransi syariah sekalipun.

Mempelajari pengalaman hidup seseorang berarti menghemat waktu tanpa harus mengalaminya sendiri | carinsurancenet.us | 4.5