Perasaan bangga sedang berinvestasi padahal sedang melakukan praktek menimbun. hati-hati!

Perasaan bangga sedang berinvestasi padahal sedang melakukan praktek menimbun. hati-hati!

Pilihan setelah memiliki penghasilan ialah selanjutnya, menghabiskan apa yg didapatkan dengan berfoya-foya tanpa memikirkan & mempersiapkan segala kemungkinan yg terjadi dimasa yg akan datang 😉 kalau pembaca tidak seperti ini mungkin pembaca pada posisi yg lebih baik, dimana pembaca sama halnya dengan saya akan memikirkan langkah selanjutnya mencoba untuk berinvestasi, dengan harapan dengan adanya investasi(baca juga: investasi di asuransi unit link) & semoga pada waktu yg tidak terlalu lama menghasilkan tambahan pemasukan dana menjadi pendapatan tambahan, mungkin juga pada jangka panjang  > 5 / 10 tahun yg akan datang menjadi sumber aliran penghasilan utama kita. Pada masa ini bekerja menjadi suatu pilihan saja dlm arti bukan kewajiban lagi, dimana kita akan terfokus untuk mengatur & mengoptimalisasi investasi agar mendapatkan pengembalian yg maksimal & melebarkan tebaran investasi pada ragam jenis pilihan investasi yg ada pada waktu itu.

perasaan bangga sedang berinvestasi padahal sedang melakukan praktik menimbun barang
kebutuhan pokok, wikipedia

Terlepas dari itu semua, segalanya akan berjalan beriringan waktu & kematangan & pemahaman kita akan pengetahuan finansial kita secara pribadi, dlm waktu yg tengah dilalui mungkin kita akan melakukan kesalahan, misalnya terjebak nasihat so called: ‘penasehat keuangan pribadi’ / jasa konsultan sejenisnya, / terbujuk rayuan investasi dengan iming-iming return yg ‘wow’, yg pada akhirnya kita benar-benar terampil dlm urusan investasi dimana kita dapat menentukan jenis investasi apa yg menguntungkan untuk kita dapatkan.

Tetapi disisi lain untuk pribadi muslim yg taat menjalankan perintah agama tentu itu semua belum cukup. kita dituntut untuk tetep pada jalan yg benar yg telah digariskan dengan sangat jelas. Apapun yg kita lakukan dlm urusan investasi diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu, diantaranya;

  • Halal, kata Halal berasal dari kalimah bahasa Arab yg berarti dibenarkan / dibolehkan oleh Hukum Syariat, dlm hal definisi halal disini dikhususkan hanya pengertian dari halal dlm berbisnis(harta), dimana definisi terbagi kedalam beberapa bagian; asalmula harta, cara/proses bisnisnya, hasilnya dimana itu semua wajib mengikuti tuntunan yg telah ada.
  • Maslahat, artinya segala sesuatu yg mendatangkan kebaikan, dimana usaha / bisnis / investasi yg kita tengah lakukan setelah halal haruslah disempurnakan dengan memberikan manfaat kebaikan untuk ummat manusia & alam pada umunya.
  • Nyata, yg terakhir ini tak kalah pentingnya juga, harus difahami sistem investasi sekarang ini dimana kita dapat saja memiliki suatu bisnis jauh di ujung dunia sana tanpa kita harus secara fisik misalnya: mengunjungi ladang minyak / perkebunan gandum yg kita tanam investasi disana. tetapi disisi lain mengandung pula kelemahan, karena sering terjadi modal invest buka dialokasikan pada bisnis yg nyata tetapi malah diputar pasar uang dengan harapan terdapat selisih harga & mendapatkan keuntungan bukan menjalankan bisnis secara nyata. & ini sangat ditentang sekali dlm Islam karena dapat jadi dana yg ada hanya diam & tidak membawa kebaikan untuk ummat demi kesejahteraan.

 

Syariat Islam berhubungan dengan praktik penimbunan.

Didalam Agama Islam prinsip-prinsip keadilan dlm berniaga sangat dijunjung tinggi karena tidak ada kebebasan individu dlm cara untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi tanpa memikirkan tentang kehalalan & kemaslahatan atas apapun tindakan bisnis yg diambil, sebab seorang pribadi muslim benar-benar memahami resiko yg akan diterima & balasan atas kebaikan yg diperbuatanya dikemudian kelak. Jadi jelas secara pemahaman didalam Islam tidak ada istilah ‘pasar bebas’, semua ada aturannya, karena ketaatanya kreatifitas berperan dlm kerangka aturan main yg ada demi keselarasan & kesejanteraan bersama.

Melakukan perdagangan/investasi dengan cara menimbun barang (bahasa Inggris:hoarding, ihtikar >> bahasa Arab: الاحتكار >> aniaya) bermakna; mengumpulkan & menahan. Membeli barang disaat harga barang tinggi / murah, lantas menyimpannya untuk menunggu dijuat pada saat harganya jauh tinggi lebih dari pada saat awal membelinya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Pendapat terbagi menjadi dua menyoal tentang praktik penimbunan barang ini;

  • Pendapat pertama, yg menyatakan yg tidak diperbolehkan hanya menimbun pangan / bahan pokok makanan saja, mana pendapat ini bermakna untuk menimbun hal lain selain bahan pokok diperbolehkan.
  • Pendapat kedua, menyatakan bahwa perilaku menimbun tidak diperbolehkan untuk semua bahan/barang. karena pertimbangan berlaku aniaya(ihtikar >> الاحتكار) merusak kesetabilan pasar hanya sekedar mengejar keuntugnan pribadi semata.

Pendapat para ulama lebih cenderung pada pendapat kedua.

Ayat & hadits yg mendasari hukumnya.

Secara universal segala rupa bentuk perilaku yg menzalimi diri sendiri & / orang lain baik itu saudara muslim maupun orang kafir begitu pula lingkungan alam termasuk praktik ihtikar/aniaya diharamkan oleh agama Islam. Rujukan Ayat & hadits yg berhubungan dengan ini tentu sangatlah sering muncul dibeberapa surat dlm al-Quran & al-Hadits, berikut diantaranya;

  • & tolong menolonglah kamu dlm kebaikan & taqwa & janganlah tolong menolong dlm berbuat dosa & pelanggaran…(QS:al-Maidah:02)
  • Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah & Rasul-Nya akan memerangimu. & jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya & tidak dianiaya. (QS:al-Baqarah:279)
  • & Dia tidak  sekali-kali menjadikan untuk kamu dlm agama suatu kesempitan… (QS:al-Hajj:78)
  • Allah tidak menginginkan kesulitan apapun untuk kamu… (QS:al-Maidah:06)
  • & orang-orang yg menyimpan emas & perak & tidak menafkahkannya pada  jalan Allah  maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yg pedih.(34) Pada hari dipanaskan emas perak itu dlm neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, & punggung mereka (lalu dikatakan kepada mereka): “Inilah harta bendamu yg kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yg kamu simpan itu”.(35) (QS:at-Taubah:34,35)

Alhamdulillah, semoga bermanfaat.

    Perasaan bangga sedang berinvestasi padahal sedang melakukan praktek menimbun. hati-hati! | carinsurancenet.us | 4.5